Wednesday, 4 September 2013

Salamku Untuk Kertas Yang Kau Rusak

dalam tangisan tanpa melodi.... kepercayaan adalah selembar kertas yang apabila telah di rusak, tak dapat kembali mulus seperti sedia kala. tapi usahaku untuk terus mempercayainya begitu besar, karna aku mencintainya. rasa sayangku mengalahkan semua pikiranku tentang kesalahannya dimasa lalu. sesakit apapun. memang sebagian orang mungkin berpikir, betapa bodohnya pikiranku. dan aku berpikir orang yang mengganggap itu suatu kebodohan adalah orang yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya cinta. ya, cinta. mungkin aku tak secantik mereka diluar sana, semodis mereka yang selalu berpakaian mengikuti jaman, secantik mereka yang berdandan menggunakan pemulas mata hingga perona pipi. tapi inilah aku. buat apa ikut ikutan trend yang belum tentu nyaman dipakai ? baju baju kekurangan bahan yang harganya selangit. pernah kucoba, dan aku tau itu bukan aku. aku kembali menjadi diriku yang tak terlalu suka mengikuti trend fashion. terlebih trend fashion flower-print. ouh layaknya taman bunga berjalan. di Kota X tempat kita mengukir kenangan.. satu demi satu aku hitung perjalanan aku dan kamu, kita. indah, sangat indah. bahkan semua kenangan pahit pun sangat indah.. dan bahkan saat kau mencoba berkhianat (lagi) pun sudah aku maafkan. tapi tidak untuk aku lupakan. maaf, tapi kercayaan itu sebuah kertas. membekas. tak akan pernah kembali rapi seperti awal adanya "kita". aku tak tega memberimu ultimatum atau apalah. aku tak sanggup mengatakan apa yang ingin aku katakan, walau aku tak berhadapan dengan mu, aku tak sanggup. entah berapa besar rasa sayangku, rasa cintaku. mungkin konyol (bagi orang yang tak pernah merasakan cinta). cinta itu memang konyol. tak pernah terbesit untuk mengkhianatimu, aku takut karma. aku takut kau juga mengkhianatiku. aku tak ingin terjadi. tapi sudah terjadi. dan bukan karma untukku. apalah nasi sudah jadi bubur. aku tak bisa berbuat apa apa dan kau pun masih dipelukanku. kita saling sayang, kita saling cinta. aku mengerti kau hanya ingin coba coba. aku mengerti. tapi apdaya, hati tak pernah mengerti apapun alasan logis. hati bukanlah otak. otak bukanlah hati. tetap sakit (hatiku). tapi otak ku, dia hanya coba-coba kok. dan sampai sekarang hubungan kita baik-baik saja. tak ada masalah berarti. pikiranku sudah bisa sedikit dewasa, tak kekanak kanakan lagi. seperti pintamu, sayang. akan kujaga hatiku untukmu. tak terhitung airmataku untukmu, senyumku untuk membuatmu senyum, senyummu untuk membuatku tertawa. kau memutuskan untuk memilihku, dan kau terima apa adanya aku. tak berarti juga aku tak ingin berubah untuk kita. aku harap tak hanya menjadi kenangan, aku ingin semua berjalan selamanya. bersamamu.

Saturday, 4 May 2013

kau dan aku (nanti)

kali ini pikiranku melayang, entah apa yang terlintas seolah tak terjamah dan tak terbayang sebelumnya. aku ingin tenang, aku ingin diam seolah tak ada peristiwa apapun yang terjadi. tapi kenyataan berkata lain. mereka seakan tak mendukung keinginanku untuk diam bertahan menikmati alur cerita hidup. ragaku berkata, aku bahagia aku, punya kehidupan lain, masa depanku masih panjang, aku harus memperjuangkan hidupku, orang tuaku dan keluargaku nanti. tapi dengan nuraniku ? aku tak dapat diam membohongi diriku sendiri seolah aku tak ingin tau apa yang terjadi. paham keadaan adalah suatu keharusan, tapi aku butuh waktu, tak semudah itu menerima semuanya yang berjalan serba cepat. kalau bisa, aku ingin dunia berhenti waktu itu agar kenyataan tak pernah terjadi. terlihat egois ? ya, tapi itu semua tak akan terjadi. bumi akan terus berputar, waktu akan terus berjalan, dan kehidupan akan terus bergulir hingga pada saatnya nanti, mungkin kau dan aku akan bersama menjelajahi waktu tanpa ada perpisahan (lagi).

Thursday, 2 May 2013

Ketika Jarak Memisahkan Raga

Kamis, 2 Mei 2013. aku dihadapkan dengan suatu kondisi, dimana aku harus merelakannya pergi untuk memperjuangkan masadepan. tapi aku tak bisa mendustai kata hati, tak ada kerelaan sedikitpun untuk melepasnya pergi. kebersamaan 3 tahun tak pelak menjadi alasan mengapa aku tak rela melepas kepergiannya. aku tak ingin menangis, tetapi aku butuh airmata untuk menenangkan pikiranku. jangan! jangan sekarang! mungkin saja aku bisa menghabiskan airmataku nanti, saat aku merindukannya? di ujung pertemuanku tadi, ada kata yang tak sempat ia ucapkan. sebuah pesan masuk ke handphone ku, isinya "aku pengen kamu kuliah". ya, aku memang kuliah. mungkin dia mengkhawatirkan masa depanku atau pergaulanku yang jelas mungkin yang terbaik untukku. sampai di Jakarta, ada pesan masuk kembali. percakapan maya pun terjadi mulai hari ini. "hatiku gak selamat, sayang" " kok gak selamat" ketinggalan di Pontianak dipegang seseorang" "biar aja, biar kamu pulang lagi kesini kalo hatinya ditinggal", percakapan kami pun berlanjut hingga ia memutuskan untuk memejamkan mata sejenak, sembari perjalanan menuju kota Kembang. terlintas di benakku, ingin mengumpulkan uang sebanyak banyak nya, jika perlu aku beli sebuah pesawat agar aku bisa melihatmu kapanpun aku mau! kapanpun rindu melandaku! walau hanya sekedar untuk duduk minum teh. apapun itu akan kulakukan, asal aku bisa denganmu. mungkin aku belum bisa berbuat apa apa untukmu sekarang, semampuku aku berusaha untuk bisa bersamamu. hari? minggu? bulan? tahun? aku ingin selamanya berada disisimu, aku akan menunggumu dan itu pilihanku.

Monday, 29 April 2013

Aku, Kuliah dan Kerja

aku heran dengan pandangan sebagian orang, apa yang salah sih kalo kita maunya kerja dulu baru kuliah. sebagian orang berpendapat, ngapain kerja dulu, nanti kehilangan masa kuliah loh. pendapatku: memang ada ya masa kuliah di kehidupan ? toh buktinya banyak sarjana nganggur. orang tua bergelimang harta ? itu orang tua eloooohh, bukan nya elo.emang nya kalo udah nikah juga masih minta sama orang tua ? memang pendidikan itu penting, penting banget! tapi dunia itu keras brooohh! roda berputar, ga selamanya kamu berada diatas. gantian dong. kembali ke topik awal, sebenernya kuliah atau kerja tujuan nya sama aja kok. hanya prosesnya saja yang berbeda. punya atau gak punya uang ya bukan urusan, tergantung minat dan niat.:)

Sunday, 28 April 2013

Cinta dan Jarak

seorang gadis kecil yang mempunyai mimpi besar. Ya itulah, Anggit. Berdomisili di jl. H. Rais. A Rahman, anak dari seorang guru yang yaaaaa dibilang gaul juga boleh laaah. Gadis kecil ini pernah menjalin hubungan cinta, ya cinta monyet. Dan berakhir pada masa SMP. Kali ini kita akan membahas masalah kehidupan percintaan makhluk ini. Pada waktu menginjakkan kaki ke kelas Delapan, gadis kecil ini ternyata tertarik pada seseorang. Dan akhirnya mereka berdua menjalin hubungan "pertemanan", jemput jemputan, anter anteran, senggol senggolan ooyy senggol senggolan. ah apasih. next, mereka terus menjalin hubungan tak bertuan itu. sampai di pegnhujung tahun ajaran, sebut saja Basith pergi meninggalkan Anggit untuk bersekolah di Jerman (Jerman beneran), katanya sih ikut orang tuanya. beberapa tahun berlalu, saat kenaikan kelas Duabelas, Basith memutuskan untuk pindah ke Kota Jogjakarta. Dan turun menjadi kelas Sebelas lagi. entah akupun tak mengerti sistem pendidikan di Indonesia. kesetiaan anggit tak berujung nampaknya. sampai saat ini pun mereka masih menjalin hubungan tak bertuan itu. mungkin itu yang dinamakan cinta. tak mengenal jarak sebagai penghalang. selagi masih ada teknologi. Dan Hati.