Saturday, 4 May 2013
kau dan aku (nanti)
kali ini pikiranku melayang, entah apa yang terlintas seolah tak terjamah dan tak terbayang sebelumnya. aku ingin tenang, aku ingin diam seolah tak ada peristiwa apapun yang terjadi. tapi kenyataan berkata lain. mereka seakan tak mendukung keinginanku untuk diam bertahan menikmati alur cerita hidup. ragaku berkata, aku bahagia aku, punya kehidupan lain, masa depanku masih panjang, aku harus memperjuangkan hidupku, orang tuaku dan keluargaku nanti. tapi dengan nuraniku ? aku tak dapat diam membohongi diriku sendiri seolah aku tak ingin tau apa yang terjadi. paham keadaan adalah suatu keharusan, tapi aku butuh waktu, tak semudah itu menerima semuanya yang berjalan serba cepat. kalau bisa, aku ingin dunia berhenti waktu itu agar kenyataan tak pernah terjadi. terlihat egois ? ya, tapi itu semua tak akan terjadi. bumi akan terus berputar, waktu akan terus berjalan, dan kehidupan akan terus bergulir hingga pada saatnya nanti, mungkin kau dan aku akan bersama menjelajahi waktu tanpa ada perpisahan (lagi).
Thursday, 2 May 2013
Ketika Jarak Memisahkan Raga
Kamis, 2 Mei 2013.
aku dihadapkan dengan suatu kondisi, dimana aku harus merelakannya pergi untuk memperjuangkan masadepan. tapi aku tak bisa mendustai kata hati, tak ada kerelaan sedikitpun untuk melepasnya pergi. kebersamaan 3 tahun tak pelak menjadi alasan mengapa aku tak rela melepas kepergiannya. aku tak ingin menangis, tetapi aku butuh airmata untuk menenangkan pikiranku. jangan! jangan sekarang! mungkin saja aku bisa menghabiskan airmataku nanti, saat aku merindukannya? di ujung pertemuanku tadi, ada kata yang tak sempat ia ucapkan. sebuah pesan masuk ke handphone ku, isinya "aku pengen kamu kuliah". ya, aku memang kuliah. mungkin dia mengkhawatirkan masa depanku atau pergaulanku yang jelas mungkin yang terbaik untukku. sampai di Jakarta, ada pesan masuk kembali. percakapan maya pun terjadi mulai hari ini. "hatiku gak selamat, sayang" " kok gak selamat" ketinggalan di Pontianak dipegang seseorang" "biar aja, biar kamu pulang lagi kesini kalo hatinya ditinggal", percakapan kami pun berlanjut hingga ia memutuskan untuk memejamkan mata sejenak, sembari perjalanan menuju kota Kembang.
terlintas di benakku, ingin mengumpulkan uang sebanyak banyak nya, jika perlu aku beli sebuah pesawat agar aku bisa melihatmu kapanpun aku mau! kapanpun rindu melandaku! walau hanya sekedar untuk duduk minum teh. apapun itu akan kulakukan, asal aku bisa denganmu. mungkin aku belum bisa berbuat apa apa untukmu sekarang, semampuku aku berusaha untuk bisa bersamamu. hari? minggu? bulan? tahun? aku ingin selamanya berada disisimu, aku akan menunggumu dan itu pilihanku.
Subscribe to:
Posts (Atom)